Penyerang Siswa SD di NTT Pernah Melamar Jadi Tenaga IT di Sekolah-sekolah di Sabu

Penyerang Siswa SD di NTT Pernah Melamar Jadi Tenaga IT di Sekolah-sekolah di Sabu

KUPANG, - IR (32) pelaku penyerangan yg melukai tujuh siswa kelas V SDN 1 Sabu Barat, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, NTT, ternyata dua kali pernah melamar kerja di sejumlah sekolah di wilayah itu.

Kepala Kepolisian Daerah NTT Brigjen Polisi Estasius Widyo Sunaryo dalam jumpa pers bersama sejumlah wartawan di Markas Polda NTT, Kamis (15/12/2016) mengatakan, sekolah yg didatangi oleh IR yakni dua SMP dan SMA di Sabu Raijua.

“Tersangka IR telah tinggal kurang lebih tiga pekan di Sabu Raijua dan mengontrak sebuah rumah punya warga setempat. IR profesinya bukan sebagai pedagang barang seperti yg diberitakan sebelumnya. IR ini telah dua kali melamar kerja sebagai tenaga informatika dan teknologi di sejumlah sekolah, namun ditolak karena bidang ilmunya tak dibutuhkan di sana,” kata Sunaryo.

Menurut Sunaryo, selama di Sabu, IR setiap hari tak pernah berbaur dengan warga sekitar. Termasuk juga saat ada hajatan dari pemilik kontrakan yg ditempatinya, IR pun tak pernah terlibat.

“Saat ini kita selalu mengumpukan informasi dari para saksi yg ada di Sabu Raijua, termasuk juga keluarga IR di Jawa Barat, mudah-mudahan kita mampu menyimpulkan apa motif yg melatar belakangi dari tindakannya tersebut,” jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, kejadian itu bermula saat jam pelajaran sedang berlangsung sekitar pukul 08.47 Wita.

Saat itu, pelaku yg hingga ketika ini belum diketahui identitasnya tiba memasuki ruangan kelas V SDN 1 Sabu Barat sambil memegang sebilah pisau. Pelaku ketika itu segera menuju ke bangku belakang dan mendekati seorang siswi dan menggorokkan pisau ke leher seorang siswi.

Baca: Kronologi Penikaman 7 Murid SD di NTT

Setelah itu, pelaku segera mencari korban lainnya dan melukai leher dan menusuk tangan serta kaki para korban. Total korban sebanyak tujuh orang siswa. Melihat hal itu, siswa lainnya segera berhamburan lari keluar lingkungan sekolah dan para guru sekolah pun berteriak histeris.


Source : regional.kompas.com