YOGYAKARTA, - Pengamatan terhadap aktivitas Gunung Merapi sudah dikerjakan sejak sebelum penjajahan Belanda, jauh sebelum adanya kamera foto, video, seismik, dan alat deformasi.
Lalu, bagaimana cara seorang pengamat zaman lalu menggambarkan keadaan Gunung Merapi?
Staf Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Noer Cholik, menceritakan, pada zaman lalu seorang pengamat Gunung Merapi cuma mengandalkan pengamatan visual buat mengamati aktivitas gunung.
"Yang menjadi andalan dahulu itu pemantuan visual secara langsung. Itu sebelum ada seismik dan alat deformasi," ujar Staf Seksi Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Noer Cholik, Rabu (14/12/2016).
Mereka mendokumentasikan pengamatannya secara visual di atas kertas, yakni dengan menggambar sketsa. Sketsa itulah yg didokumentasikan sebagai keterangan data pengamatan.
"Dulu memang seorang pengamat mendokumentasikan apa yg diamati dengan menggambar sketch di kertas karena belum ada kamera foto dan alat-alat canggih seperti sekarang," ucapnya.
Sketsa yg digambar meliputi, antara lain, asap sulfatara, perubahan morfologi, deformasi, bentuk kubah, luncuran awan panas, batas luncuran awan panas, dan kejadian-kejadian yg menarik. Bahkan ada pula yg menggambar sketsa peta kontur yg sangat detail.
"Yang menarik itu ada yg menggambar peta kontur dan hasilnya sangat detail. Dia gambar peta dari Kaliurang sampai ke Puncak diberi garis kontur dan titik ketinggian," kata dia.
Uniknya lagi, pengamatan yg dibuat menjadi sketsa tak cuma siang hari, tapi juga malam hari. Sketsa pengamatan malam hari ini di kertas cenderung gelap.
"Ada juga pengamatan malam hari yg juga di-sketch. Gambarnya di kertas agak gelap," ujarnya.
Bahkan ada salah sesuatu pengamat yg sampai membuat sketsa sebuah desa di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, yg pada tahun 1954 hilang terkena awan panas Gunung Merapi.
"Ada sketch gambar menceritakan Desa Pencar (Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali) yg kena awan panas. Jadi ceritanya di-sketch itu before dan after," tuturnya.
Ia menyampaikan, selain memiliki keahlian tentang kegunungapian, seorang pengamat pada zaman lalu memang telah dididik buat memiliki keahlian menggambar sketsa. Keahlian membuat sketsa ini diturunkan segera oleh ahli gunung api Belanda.
"Pengamat kalian zaman lalu itu memang dididik mampu gambar sketch bagus sama Belanda. Jadi bagaimana membedakan morfologi, cekungan, itu dilatih oleh Belanda," ujarnya.
Menurut dia, meskipun ketika ini pengamatan sudah memakai alat canggih, para petugas BPPTKG Yogyakarta terkadang masih membuat sketsa.
"Sekarang memang pemantuan misalnya dengan kamera DSLR, tapi kan sketch itu persoalan rasa. Kita gambar kemudian tahu perbedaan setiap hari, rasanya ada, sering dua teman kalau ke Puncak ya masih membuat sketch," tuturnya.
Hasil sketsa pengamatan Gunung Merapi ketika ini masih terjaga dengan baik di Kantor BPPTKG Yogyakarta. Total gambar sketsa pemantuan yg terdokumentasi ada lebih dari 100 lembar.
"Sketch ini menjadi kekayaan ilmu, bukan cuma buat BPPTKG, melainkan juga Indonesia. Yang dipajang buat pameran ini dari tahun 1940, tapi yg lebih lama juga ada," kata Noer.
Source : regional.kompas.com