JAKARTA, - Peneliti Kebijakan Sosial The Indonesian Institute Lola Amelia menilai visi misi jaminan kesehatan dari pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI nomor pemilihan satu, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, masih belum konkret.
Program jaminan kesehatan yg dicantumkan pada visi dan misi pasangan calon itu menurutnya masih bersifat umum.
"Pasangan calon nomor sesuatu kurang jelas atau konkrit dalam merumuskan visi misi yg berkaitan dengan jaminan kesehatan, seandainya dibandingkan dengan pasangan calon lain," kata Lola, Selasa (6/12/2016).
Hal itu ia sampaikan dalam diskusi yg diselenggarakan The Indonesian Institute, di Gedung Pakarti Center, Tanah Abang, Jakarta Pusat, dengan tema "Jakarta Sehat: Membedah Visi Misi Pemenuhan Jaminan Kesehatan Kandidat Gubernur DKI Jakarta".
Masalah jaminan kesehatan pasangan calon nomor pemilihan sesuatu yg masih umum itu menurutnya mengenai peningkatan akses kesehatan bagi anak dan perempuan terhadap fasilitas kesehatan, pendidikan dan publik. Kemudian meningkatkan indeks kebahagiaan warga Jakarta, dan lainnya.
Sementara program kesehatan dari pasangan calon nomor pemilihan beberapa Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, lanjut Lola, dielaborasi dengan cukup detail.
Misalnya, pasangan ini menyebut menjamin kesehatan buat 100 persen warga dengan mekanisme BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) kelas 3, dan mendorong keanggotaan BPJS warga melalui lurah dan Dinas Kesehatan, melalui kerja sama lurah dengan BPJS dan PTSP buat memastikan segala perusahaan mendaftarkan pegawainya memiliki BPJS Pekerja Penerima Upah. Kemudian, pemberian BPJS PBI kepada bayi yg baru lahir.
"Melaksanakan program ketuk pintu layani dengan hati, dan lainnya," ujar Lola.
Sementara bagi pasangan nomor pemilihan tiga, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, penjabaran jaminan kesehatan cakupannya masih perlu penjelasan. Misalnya dalam hal integrasi KJS dan KIS.
Pendapat senada diungkapkan Peneliti Perkumpulan Prakarsa Ria Fanggidae, yg menyatakan Agus-Sylvi menurutnya tak spesifik menerangkan mengenai jaminan kesehatan.
"Calon nomor sesuatu tampaknya agak terburu-buru, karena mungkin pencalonannya dadakan, isunya (soal kesehatan) masih general (umum)," ujar Ria. (Baca: Program Kesehatan Cagub-Cawagub DKI Orientasinya Hanya ke Faskes)
Sedangkan, Ahok-Djarot menurutnya mampu lebih detail dalam menjelaskan jaminan kesehatan karena yaitu pasangan incumbent.
"Kandidat kedua cukup detail tetapi mampu dipahami karena dia incumbent dan pegang data. Kalau calon ketiga masih dapat dielaborate," ujar Ria.
Namun, secara keseluruhan, Ria menilai visi misi mengenai jaminan kesehatan dari setiap pasangan calon masih lemah. Perlu mempertajam dan menjelaskan lagi persoalan target-target dan peningkatan yg ingin dicapai.
Sementara itu, Koordinator Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) Zumrotin K Susilo menilai, yg terkait jaminan kesehatan seluruh pasangan calon masih belum jelas. Karena, lanjut dia, cuma berbicara persoalan peningkatan.
"Karena seluruh cuma (bicara) meningkat-meningkat enggak jelas gitu. Harusnya lebih jelas lagi, target sekian-sekian," ujar Zumrotin.
Dengan ada target, janji pasangan calon mampu dipegang warga Jakarta.
"Mungkin sekarang harus ditanyakan lebih detail ke calon gubernur tersebut supaya nantinya buat kalian warga Jakarta mudah nagih janjinya," ujar Zumrotin.
Kompas TV Survei Poltracking: Elektabilitas Agus-Sylvi UnggulSource : megapolitan.kompas.com