Vatikan -, Paus Fransiskus mengecam keras organisasi-organisasi media yg fokus pada skandal-skandal dan hinaan, dulu memakai berita-berita palsu sebagai cara mempermalukan orang yang lain dalam kehidupan publik.
Kepada Tertio, mingguan Katolik di Belgia, ia menjelaskan bahwa penyebaran disinformasi "mungkin menjadi kerusakan terbesar yg bisa dikerjakan media."
Dikutip dari The Guardian pada Kamis (8/12/2016), Paus Fransiskus bahkan memakai istilah yg mencengangkan. Ia menyampaikan bahwa jurnalis dan media harus menghindari jebakan "coprophilia", merupakan suatu bentuk ketertarikan tidak wajar kepada tinja.
Ia menambahkan, orang yg membaca atau menyaksikan kisah-kisah demikian terpapar risiko berperilaku seperti coprophagics, merupakan orang-orang pemakan tinja.
"Menurut saya, media harus sangat bersih, sangat jernih, dan tak terjerumus ke dalam --maafkan ucapan ini --penyakit coprophilia, yg terus ingin meliput skandal-skandal, hal-hal memuakkan, bahkan jika segala itu memang benar."
"Karena orang memiliki kecenderungan ke arah penyimpangan coprophagia, mampu banyak kerusakan yg timbul."
Ia juga bicara tentang bahayanya memakai media buat memfitnah lawan-lawan politik, katanya, "Cara-cara komunikasi memiliki godaan masing-masing, sehingga mampu tergoda bagi memfitnah orang, menghina mereka, dan ini dalam dunia politik."
Disinformsi yaitu potensi kerusakan terbesar oleh media, imbuhnya, karena "hal itu menggiring pendapat cuma ke sesuatu arah dan mengabaikan bagian yang lain dari kebenaran."
Wawancara pada Rabu dulu itu bukan yaitu yg pertama kalinya Paus Fransiskus mengemukakan pendapat yg sama dengan memakai pembahasaan yg tak biasa.
Setahun sebelum terpilih menjadi Paus, ia menyampaikan kepada harian La Stampa di Italia, "Kadang-kadang, para jurnalis berisiko terjangkit penyakit coprophilia sehingga mengundang coprophagia, yg yaitu dosa yg menajiskan seluruh pria dan wanita -- merupakan kecenderungan bagi fokus cuma kepada aspek-aspek negatif, bukan pada yg positif."
Komentarnya yg teranyar soal disinformasi muncul di tengah-tengah perdebatan global tentang maraknya situs-situs berita dan cerita palsu yg menghadirkan kejadian-kejadian menurut pandangan yg sangat partisan (memecah belah).

Di Amerika Serikat, dua pengamat menduga bahwa berita palsu mungkin sudah menggiring hasil pemilu sehingga menguntungkan Donald Trump.
Pada 19 November lalu, Mark Zuckerberg, CEO Facebook, mengumumkan langkah-langkah bagi melawan platform berita-berita palsu. Ia melangkah menjauhi pandangan skeptisnya terhadap ungkapan Barack Obama yg menyampaikan bahwa misinformasi secara daring (online) yaitu ancaman terhadap lembaga-lembaga demokratis.
Contohnya, teori konspirasi "Pizzagate" mendorong seorang pria bersenjata menembakan senjatanya di suatu restoran piza terkenal di Washington DC pada Minggu lalu. Teori konspirasi itu menyebarkan berita yg secara palsu menuduh pemilik restoran sebagai kawanan paedofil terkait dengan Hillary Clinton, padahal tak ada kelompok seperti itu.
Source : liputan6.com