KINABALU, - Sekelompok anak asyik bermain di sebuah bangunan berbentuk panggung di sebuah desa di Kundasang, Sabah, Malaysia, Minggu (4/12/2016).
Bangunan itu yaitu salah sesuatu dari 219 Community Learning Center (CLC) atau sekolah yg dibangun pemerintah Indonesia bagi anak-anak Indonesia yg tinggal di daerah Sabah, Malaysia.
CLC ini bernama CLC Kundasang yg terletak tidak jauh dari kaki Gunung Kinabalu. Jarak dari pusat Kota Kinabalu menuju Kundasang mencapai 57 kilometer memakai kendaraan pribadi. Untuk sampai ke CLC tersebut, juga harus melalui jalanan sempit berbatu kerikil.
Bentuk bangunan CLC ini seperti panggung. Bangunannya berbahan kayu, tripleks dan seng warna warni.
Di halaman depan, tampak belasan tanaman hias digantung di dalam potongan botol plastik. Botol-botol itu digantung tidak beraturan.
Di dalam bangunan, terdapat beberapa buah ruangan. Ruangan itu dipisahkan dengan sebuah triplek. Ruangan berisi sejumlah kursi plastik, meja belajar, karpet, serta beberapa buah papan tulis berwarna putih.
Sebanyak 259 siswa mengenyam pendidikan di CLC Kundasang. Siswa tersebut terdiri dari 30 siswa TK, 157 siswa SD, dan 72 siswa SMP. Namun, ruangan cuma cukup menampung sekitar 80-an siswa saja. Sisanya, proses belajar dilanjutkan di sebuah bangunan yg masih dalam tahap pembangunan.
Kompas.com/David Oliver Purba ClC Kundasang di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia, Minggu (4/12/2016)Bangunan ini terletak persis di sebelah bangunan sebelumnya. Tampak bahan bangunan seperti tripleks, kayu, serta rangka besi bangunan yg belum terpasang dan dibiarkan tergeletak di bawah lantai.
Di dalam bangunan yg masih belum berbentuk ini, guru di CLC Kundasang memanfaatkanya bagi mengajar siswa yg tidak tertampung di bangunan yg lama.
Bangunan ini dibagi dalam empat ruangan. Tiap ruangan dibatasi dengan tripleks. Namun, seandainya hujan turun, siswa harus berbasah-basahan karena lantai tanah tergenang air.
Setiap hari, para siswa pergi ke sekolah dengan menyewa sebuah mobil. Setiap bulan, setiap siswa membayar uang sewa sebesar 35 ringgit Malaysia. Jarak sekolah dan rumah para siswa rata-rata memakan waktu 20 menit dengan memakai kendaraan.
Hilda Yanti, salah sesuatu guru CLC Kundasang mengatakan, terdapat delapan guru yg mengajar di CLC Kundasang. Jumlah guru yg terbatas membuat setiap guru diharuskan memiliki kemampuan buat menguasai dan dapat mengajarkan semua mata pelajar kepada para murid.
"Ada banyak kelas dan tingkatan dan gurunya terbatas. Jadi di sini mungkin seperti daerah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal) sering multigrade, multisubjek," ujar Hilda.
Hilda mengatakan, sejumlah kekurangan dirasakan saat mengajar. Kekurangan itu seperti sedikitnya buku pelajaran serta ruangan kelas yg masih terbatas.
Kompas.com/David Oliver Purba ClC Kundasang di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia, Minggu (4/12/2016)Di CLC Kundasang, kurikulum pendidikan memakai kurikulum yg juga dipakai di Indonesia. Mata pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, dan Pkn yaitu sejumlah pelajaran yg wajib diajarkan kepada para murid.
Guna memenuhi kebutuhan operasional sekolah, pihak guru memanfaatkan bantuan operasional pendidikan (BOP) bagi tingkat SMP dan bantuan operasional sekolah (BOS) buat tingkat SD.
Tak cuma di CLC Kundasang, bantuan dana juga diberikan ke segala CLC yg ada di Sabah. Pencairan dana BOP dan BOS dikerjakan selama sebulan sekali atau tiga bulan sekali.
Meski tidak menyebut jumlah bantuan yg didapat CLC Kundasang, bantuan dana itu mampu digunakan buat membeli perlengkapan belajar sekolah seperti kursi dan meja belajar. Bantuan dana juga dimanfaatkan buat membayar sewa tanah bangunan sekolah sebesar 400 ringgit Malaysia per bulannya.
Hilda berharap, pemerintah tetap memerhatikan siswa yg ada di CLC Kundasang ataupun siswa yg ada di semua CLC di Sabah. Perhatian itu berbentuk beasiswa untuk siswa yg hendak melanjutkan ke jenjang pendidikan yg lebih tinggi.
Sebab banyak siswa yg berniat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Namun, terkendala oleh biaya pendidikan.
"Harapannya semoga pemerintah melihat mutiara-mutiara bangsa Indonesia, penerus. Mungkin ke depannya beasiswa kembali (belajar) ke Indonesia," ujar Hilda.
Source : internasional.kompas.com