Besok, Paus Fransiskus Berulang Tahun Ke-80

Besok, Paus Fransiskus Berulang Tahun Ke-80

VATICAN CITY, - Pada Sabtu (17/12/2016), Paus Fransiskus genap berusia 80 tahun. Namun, usianya yg sangat senja itu tidak menghalangi upayanya bagi mereformasi Gereja Katolik.

Sudah tiga tahun sembilan bulan, Paus yang berasal Argentina itu menjadi pemimpin umat Katolik sedunia.

Paus Fransiskus memang tidak menutup kemungkinan dia mulai mengikuti jejak Benedictus XVI yg mengundurkan diri karena kelelahan.

Namun, setidaknya pernyataan buat mundur dari tahta Kepausan tidak mulai terjadi dalam waktu dekat.

Pada Sabtu, Paus Fransiskus tetap bekerja seperti biasa. Setelah memimpin misa pagi bersama para kardinal, dia mulai menggelar meeting dengan Presiden Malta dan pejabat tinggi Vatikan.

Ini mulai menjadi ulang tahun keempat buat Paus Fransiskus yg dirayakan di apartemen St Martha yg sederhana di Vatikan.

Terlahir dari keluarga berdarah Italia di Argentina, pria yg terlahir dengan nama Jorge Bergoglio itu menjadi Paus ke-266 ketika terpilih pada 13 Maret 2013.

Di tahun pertamanya menjabat, Paus Fransiskus kemampuan memberi maaf harus menjadi inti dari karya gereja bukan lagi merefleksikan pengecaman dan penghakiman.

Tentu saja pandangan ini mendapatkan tentangan, meskipun demikian Paus Fransiskus perlahan-lahan akan membentuk kembali doktrin ajaran Gereja Katolik.

Saat menghadapi isu-isu sulit seperti kohabitasi (pasangan tidak menikah yg tinggal bersama), homoseksualitas, perceraian, Paus terus memberikan komentar yg sulit dibantah.

Pernyataan-pernyataannya atas persoalan semacam ini kerap dibiarkan menggantung dan ambigu sehingga mengesalkan kelompok konservatif dan radikal.

Salah sesuatu kalimatnya yg sangat terkenal adalah ketika ditanya soal homoseksualitas yg oleh Gereja Katolik dianggap sebagai sebuah kelainan.

"Siapa aku ini sehingga dapat menghakimi?" kata Paus saa t itu.

Banyak hal yang lain dari doktrin Gereja Katolik yg digeser di masa pemerintahan Paus Fransiskus.

Misalnya soal pasangan kekasih yg tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan. Dulu, Gereja Katolik mulai segera mengecam dan menghakimi.

Kini, gereja mulai meneliti terlebih dulu masalah per masalah sebelum mengeluarkan pernyataan atau mengecam.

Paus juga telah memulai proses kemungkinan peran diakon perempuan dan dua kalangan melihat Paus membuka kemungkinan munculnya imam-imam perempuan Gereja Katolik.

Namun, sejumlah pengamat menilai Paus Fransiskus tidak lebih dari seorang reformis pragmatis, bukan seorang revolusioner.

"Bagi dia gereja adalah sebuah rumah sakit lapangan, bukan penghalang kebiasaan," ujar pakar Vatikan, Marco Politi.

"Dia belum menyentuh doktrin. Dalam hal ini dia tak progresif," tambah Politi.

Sementara itu, Marco Tosatti, pengamat Vatikan, menyampaikan Paus Fransiskus malah membuat banyak kebingungan di dalam gereja.

"Dia Paus bagi jurnalis. Dia memberikan gambaran gereja yg lebih bersahabat dan lebih ringan. Namun, obral musim panas tidak mulai mendatangkan pelanggan baru," kata Tosatti.

"Gereja Protestan tradisional coba beradaptasi dengan dunia modern dan lihatlah, mereka tidak kekurangan umat," lanjut dia.

Sedangkan Politi melihat, kelompok konservatif di Vatikan ketika ini tengah bermain dengan waktu.

"Tujuannya bukan kudeta tapi meletakkan dasar untuk pengganti Paus Fransiskus," ujar Politi.


Source : internasional.kompas.com