- Komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia merilis layanan pelaporan berita palsu bernama Turn Back Hoax. Berbentuk ekstensi peramban Chrome, Turn Back Hoax mengandalkan mekanisme crowdsourcing.
Para penggunanya melaporkan konten-konten di internet yg diduga yaitu hoax, bagi kemudian disatukan dalam sesuatu basis data.
Basis data yg mampu bebas dikunjungi dengan browser desktop atau mobile ini diharapkan dapat menjadi rujukan netizen di Indonesia dalam memilah mana keterangan yg benar. Di dalamnya ada fitur search berbasis kata kunci bagi mempermudah pencarian rujukan.
Untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan keterangan benar yg salah disebut sebagai hoax, Turn Back Hoax mengajak para penggunanya buat saling memverifikasi laporan.
"(Apabila menemukan keterangan bukan hoax) Langsung komentar, sertakan buktinya, selalu tandai (flag) bukan hoax," sebut Khairul Anshar, salah sesuatu inisiator yg menangani pengembangan aplikasi Turn Back Hoax, di laman akun Facebook miliknya.
Lebih lanjut, dia menjelaskan proses verifikasi ini dikerjakan secara bersama oleh publik pengguna Turn Back Hoax. Semua orang dapat berdiskusi soal benar-tidaknya sebuah konten sambil dimediasi oleh tim administrator yg terdiri dari sukarelawan.
Jika tidak setuju sebuah konten disebut sebagai hoax, misalnya, pengguna mampu berkomentar sekaligus melampirkan bukti pendukung yg memamerkan bahwa keterangan dalam konten tersebut memang valid.
Pengguna yang lain mampu ikut nimbrung, juga melalui kolom komentar. Dengan kata lain, Turn Back Hoax mengandalkan crowdsourcing dalam pelaporan sekaligus verifikasi konten yg diduga hoax.
Apabila diskusi sudah mencapai kata sepakat soal sebuah keterangan yaitu hoax atau bukan, tim Turn Back Hoax mulai menutup kolom komentar supaya tak ada debat lanjutan yg dapat membuat bingung.
"Nanti kalau telah clear baru kalian kunci," terang Khairul pada KompasTekno melalui pesan singkat, Jumat (23/12/2016)."Walaupun telah dikunci, datanya masih dapat dicari dan dilihat oleh publik," imbuhnya.
Baca juga: Dua Situs Penyebar Hoax di Indonesia
Source : tekno.kompas.com