Semarang, - Kapolda Jawa Tengah Inspektur Jenderal Condro Kirono mengatakan, tokoh ulama di Surakarta telah diajak bicara terkait imbas dari penangkapan para pelaku sweeping di restoran Social Kitchen, Solo.
Penjelasan dikerjakan kepada Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), agar mereka mengetahui fakta yg sebenarnya terjadi pada aksi Minggu (18/12/2016) lalu.
“Kita jelaskan di DSKS, dan mereka menyadari. Dilakukan penjelasan dari Dirintel. Kita sampaikan, kalau tak disampaikan seolah (jadi) pahlawan,” kata Condro, di sela meeting forum komunikasi pimpinan daerah di Semarang, Jumat (23/12/2016).
Kepada para tokoh ulama, sebut dia, polisi memamerkan bukti tindakan para pelaku yg merampas barang di restoran. Mereka yg ditangkap juga memakai alat bantu yg bermacam-macam.
Polda Jateng sendiri sebelumnya memutuskan tiga tersangka lanjutan dalam kasus ini. Dengan demikian, jumlah total tersangka dalam kasus ini sebanyak delapan orang. Namun demikian, Condro mengatakan, mayoritas tersangka masalah penganiayaan, perusakan dinilai tak kooperatif menjalani pemeriksaan. Dari sekian tersangka, cuma sesuatu tersangka yg mau diperiksa.
Lantaran mayoritas tak mau diperiksa, sebutnya, polisi dulu membuat berita acara pemeriksaan (BAP) penolakan. BAP ini agar mereka mampu tetap diperiksa di luar ketentuan 1x24 jam, sehingga tak harus melepaskan para tersangka.
“Kalau telah tiba (pengacara) kita lakukan pemeriksaan tambahan,” ujar jenderal bintang beberapa ini.
Polisi sendiri pada tahap pertama menangkap lima orang merupakan pimpinan LUIS, sekretaris, pengacara, Humas, dan pelatih fisik.
Kepala Bidang Humas Polda Jateng Komisaris Besar Djarod Padakova, di Semarang, sebelumnya mengatakan, para pelaku kini diamankan di Mapolda Jawa Tengah. Dari tiga pelaku sweeping , polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa jaket, helm, kain penutup muka berwarna hitam, sepeda motor, telepon genggam dan uang tunai.
Source : regional.kompas.com