Senator Filipina: Duterte Bisa Dilengserkan karena Telah Membunuh

Senator Filipina: Duterte Bisa Dilengserkan karena Telah Membunuh

MANILA, Presiden Filipina Rodrigo Duterte berisiko dilengserkan dari jabatannya setelah ia mengaku pernah membunuh penjahat saat menjabat wali kota Davao.

Dua anggota parlemen Filipina, Kamis (15/12/2016), menyatakan keterkejutan dan keprihatian mereka atas pengakuan Presiden Duterte tersebut.

Selain operasi anti-narkobanya yg menuai kecaman dari dunia internasional, berbagai pernyataan Durterte juga kerap menimbulkan kegaduhan, demikiran Reuters.

Kali ini Duterte kembali membuat pernyataan kontroversial. Dia mengaku pernah membunuh orang dengan tangannya sendiri ketika menjabat wali kota Davao.

Pengakuan Duterte disampaikan dalam sebuah pidato pada Senin (12/12/2016) malam di hadapan para pebisnis ketika membahas kampanye anti-narkoba yg digelarnya.

"Di Davao, aku pernah melakukannya (membunuh) secara personal. Hal itu aku lakukan bagi menunjukan kepada polisi bahwa seandainya aku mampu melakukannya maka mereka juga bisa," kata Duterte.

"Dan aku suka mengelilingi Davao naik sepeda motor dan berpatroli di jalanan dan mencari masalah. Saya memang mencari konfrontasi sehingga aku mampu membunuh," tambah Duterte.

Seperti biasa, Duterte kembali mengecam kritik terhadap taktik yg digunakannya bagi memberantas peredaran narkoba yg dilontarkan para aktivis HAM dan Presiden Barack Obama.

"Jika mereka mengira aku mulai berhenti karena aktivis HAM dan Barack Obama, maaf aku tidak mulai berhenti," tambah Duterte.

"Saya melakukan (pembunuhan) secara pribadi," kata Duterte. "Jika aku dapat melakukannya mengapa Anda tak bisa?"

Sudah lebih dari 2.000 orang sudah tewas dalam operasi anti-narkoba oleh polisi sejak Duterte menjadi presiden pada Juli 2016. Hampir seluruh ditembak saat mereka menolak ditangkap.

Sedangkan 3.000 masalah kematian masih berada di bawah penyelidikan polisi. Para kritikus menyebut mereka itu sebagai korban pembunuhan main hakim sendiri.

Senator Leila de Lima, seorang kritikus gigih atas Duterte, mengatakan, pengakuan presiden mampu menjadi dasar bagi parlemen memakzulkan Duterte.

"Itu yaitu pengkhianatan atas kepercayaan publik dan yaitu kejahatan besar karena pembunuhan massal tentu masuk dalam kategori kejahatan yg besar. Dan kejahatan besar adalah dasar buat pemakzulan sesuai konstitusi," kata de Lima kepada CNN, Kamis (15/12/2016).

Sementara Senator Richard Gordon, yg mengepalai komite keadilan Senat, juga menyampaikan Duterte sudah membuka diri buat menghadapi pemakzulan atas pengakuannya itu.

Sekutu Duterte di Kongres menentang upaya pemakzulan presiden.


Source : internasional.kompas.com