MEDAN, - Perusahaan pengguna gas industri di Kota Medan membeli gas melalui tangki angkutan yg disalurkan PT Pertagas Niaga sejak Desember ini. Harga gas itu 10,5 dollar AS per MMBTU, lebih murah dibandingkan gas yg disalurkan PT Perusahaan Gas Negara, yakni 12,22 dollar AS per MMBTU.
Ketua Asosiasi Perusahaan Pengguna Gas (Apigas) Sumatera Utara Johan Brien, Rabu (21/12), mengatakan, telah ada sesuatu perusahaan yg memakai gas yg disalurkan dari truk tangki.
Mereka membangun sistem regasifikasi mini di perusahaannya sehingga gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) yg diangkut truk tangki dapat digunakan perusahaan. Ada sesuatu lagi perusahaan yg sedang membangun sistem agar mampu menerima LNG.
"Untuk ketika ini, pelanggan industri pasti mulai memilih penjualan segera karena harga gas lebih murah. Penjualan secara trucking memperpanjang napas kehidupan industri di Sumut.," kata Johan.
Menurut Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro, PT Pertagas Niaga, anak perusahaan PT Pertamina Gas, memang sudah melakukan uji mencoba penggunaan LNG dengan model trucking di kawasan industri di Medan.
"Pertamina selalu mengembangkan berbagai model usaha gas bagi menjawab tuntutan pasar mulai harga gas yg lebih kompetitif. Salah sesuatu model yg diujicobakan, merupakan LNG trucking di kawasan industri di Medan, setelah sebelumnya mengembangkan model yg sama di Balikpapan," jelas Wianda.
Di Medan, Pertagas Niaga sudah memasok LNG model trucking pada PT Kedaung Medan Industrial, produsen gelas dan kaca blok di Tanjung Morawa, sebanyak 0,4 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD.
"Ini masih yaitu uji mencoba bagi melihat keandalan pasokan dan kesesuaiannya dengan ekspektasi konsumen sebelum kita pasarkan secara luas," katanya.
Dikatakan, LNG trucking mulai mendukung bisnis Pertamina dalam memenuhi suplai gas dengan harga kompetitif buat industri di Sumatera Utara. Bisnis gas pipa dan LNG trucking saling melengkapi dan tak mulai mematikan sesuatu sama yang lain karena segmentasi pasar yg berbeda.
Konsumen lain, seperti Unilever di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangke atau PLN, tetap memakai gas pipa.
"Kami mencari berbagai solusi maksimal buat memberikan harga gas kompetitif agar industri tetap jalan. Kami harap di bawah harga gas pipa," tambah Wianda.
Kepala Area Penjualan PT PGN Medan Saeful Hadi menyatakan, hingga kini harga gas industri di Sumut masih 12,22 dollar AS per MMBTU. Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 tentang penurunan harga gas menjadi 9,99 dollar AS per MMBTU belum terealisasi. Pengajuan penurunan harga yg dikerjakan lima perusahaan di Medan belum ada hasilnya.
"Belum ada keputusan soal penurunan harga itu," kata Saeful.
PGN tak menganggap sistem penjualan gas yg dikerjakan PT Pertagas Niaga sebagai ancaman. Namun, infrastuktur yg dibangun pemerintah melalui Pertamina, yakni pipa Arun-Belawan sejauh 350 kilometer senilai 420 juta dollar AS, belum dimanfaatkan maksimal.
"Kami berharap penurunan harga dapat langsung direalisasikan sehingga infrastruktur tak mubazir. Jika harga di hulu murah, tentu harga di hilir juga murah. Jika harga dapat murah, mengapa tak melalui pipa, tujuannya juga ke pelanggan saya," kata Saeful.
Saeful mengatakan, pihaknya tak melakukan monopoli seperti yg dilaporkan banyak pihak ke Komisi Pengawasan Persaingan Usaha karena cuma menjual gas.
"Kami cuma menjual gas, tak melakukan proses produksi gas hingga penjualan ke konsumen," kata Saiful.
Kelangkaan gas di Sumut yg dilanjutkan dengan tingginya harga gas 10 tahun terakhir sudah membuat lima perusahaan di Sumut tutup. Sekitar 10.000 karyawan kehilangan pekerjaan.
Sejumlah perusahaan sudah mengurangi produksi, di antaranya PT Kedaung, PT Gunung Gahapi Sakti, PT Growth Sumatera, PT Intan Mas Indologam, dan PT Intan Suar Kartika. Empat perusahaan itu produsen besi baja.
Awalnya, pemerintah hendak membangun kapal regasifikasi (FRSU) di Belawan, tapi kemudian digeser ke Lampung. Pembangunan regasifikasi gas kemudian dikerjakan di Arun. Pipanisasi gas Arun-Belawan dibangun dengan total anggaran 570 juta dollar AS. Namun, ketika gas sampai ke konsumen harganya tak kompetitif. (WSI)
Versi cetak artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 22 Desember 2016, di halaman 21 dengan judul "Kota Medan Galakkan Gas".
Source : regional.kompas.com