Ini Versi Lengkap Eksepsi Ahok di Persidangan

Ini Versi Lengkap Eksepsi Ahok di Persidangan

JAKARTA, - Setelah didakwa jaksa penuntut umum dengan Pasal penodaan agama, terdakwa Basuki Tjahaja Purnama mengajukan nota keberatan (eksepsi) atas dakwaan jaksa. Dia menegaskan tak berniat menodai agama mana pun.

Ahok membacakan eksepsinya sambil terbata-bata dengan suara bergetar. Dia kelihatan dua kali mengusap air mata di wajahnya. Berikut eksepsi lengkap yg dibacakan Ahok.

Bapak Ketua Majelis Hakim, dan Anggota Majelis Hakim yg aku muliakan,

Sdr. Jaksa Penuntut Umum yg aku hormati,

Penasihat Hukum dan Para Hadirin yg aku hormati,

Pertama-tama aku ingin mengatakan terima kasih kepada Majelis Hakim atas kesempatan yg diberikan kepada Saya.

Berkaitan dengan masalah yg terjadi ketika ini, di mana aku diajukan di hadapan sidang, jelas apa yg aku utarakan di Kepulauan Seribu bukan dimaksudkan bagi menafsirkan Surat Al-Maidah 51 apalagi berniat menista agama Islam, dan juga berniat buat menghina para ulama. Namun, ucapan itu, aku maksudkan buat para oknum politisi yg memanfaatkan Surat Al-Maidah 51, secara tak benar karena tak mau bersaing secara sehat dalam persaingan Pilkada.

Ada pandangan yg menyampaikan bahwa cuma orang tersebut dan Tuhan-lah, yg mengetahui apa yg menjadi niat pada ketika orang tersebut menyampaikan atau melakukan sesuatu. Dalam kesempatan ini di dalam sidang yg sangat Mulia ini, aku ingin menjelaskan apa yg menjadi niat aku pada ketika aku berbicara di Kepulauan Seribu tersebut.

Dalam hal ini, mampu jadi tutur bahasa aku yg dapat memberikan persepsi, atau tafsiran yg tak sesuai dengan apa yg aku niatkan, atau dengan apa yg aku maksudkan pada ketika aku berbicara di Kepulauan Seribu.

Majelis Hakim yg aku muliakan.

Ijinkan aku buat membacakan salah sesuatu Sub-judul dari buku saya, yg berjudul "Berlindung Dibalik ayat suci" ditulis pada tahun 2008. Saya harap dengan membaca tulisan di buku tersebut, niat aku yg sesungguhnya dapat dipahami dengan lebih jelas, isinya sebagai berikut, aku kutip:

Selama karir politik aku dari mendaftarkan diri menjadi anggota partai baru, menjadi ketua cabang, melakukan verifikasi, sampai mengikuti Pemilu, kampanye pemilihan Bupati, bahkan sampai Gubernur, ada ayat yg sama yg aku begitu kenal digunakan bagi memecah belah rakyat, dengan tujuan memuluskan jalan meraih puncak kekuasaan oleh oknum yg kerasukan “roh kolonialisme”.

Ayat ini sengaja disebarkan oleh oknum-oknum elit, karena tak mampu bersaing dengan visi misi program, dan integritas pribadinya. Mereka berusaha berlindung dibalik ayat-ayat suci itu, agar rakyat dengan konsep “seiman” memilihnya.


Source : megapolitan.kompas.com