LONDON, - Bekas kapal induk AL Inggris, HMS Illustrious mulai berlayar dari pelabuhan asalnya di Portsmouth bagi terakhir kalinya.
Kementerian Pertahanan mengumumkan, kapal tersebut sudah laku seharga 2 juta poundsterling atau sekitar Rp 33 miliar ke sebuah perusahaan daur ulang kapal di Turki.
Ratusan orang memadati garis pantai buat melepas keberangkatan kapal yg pernah berjasa bagi Inggris tersebut.
Kapal ini mulai diderek ke Turki setelah meninggalkan Portsmouth sekitar pukul 09.30 GMT waktu setempat atau 16.30 WIB.
Kapal dengan bobot 22.000 ton, yg juga dikenal dengan nama Lusty ini, dipensiunkan pada 2014 setelah beroperasi selama 32 tahun.
Kapal ini telah pernah dikerahkan ke wilayah-wilayah konflik seperti Bosnia, Irak dan Sierra Leone.
Sir Alan Massey, yg pernah menjadi kapten HMS Illustrious pada 2001-2002, menyampaikan ia merasa sangat sedih melihat kapal itu pergi bagi terakhir kalinya.
"Anda tak mulai pernah tahu apa tantangan berikutnya. Kapal itu memiliki kemampuan luar biasa dan fleksibilitas. Sebagai kapten, tak ada pekerjaan yg lebih baik - Ada sikap nyata yg mampu dilakukan," kata Massey.
Pada Oktober 2013, Kementerian Pertahanan Inggris mendapat tawaran inovatif buat menyelamatkan kapal itu di Inggris.
Awalmnya, ada upaya bagi memelihara kapal itu dan dijadikan peninggalan sejarah, tetapi akhirnya diputuskan bagi mengirim kapal itu ke Turki ibaratnya sebagai besi tua, sebagaimana pendahulunya HMS Invincible dan HMS Ark Royal.
Perannya mulai digantikan kapal induk generasi terbaru merupakan HMS Queen Elizabeth dan HMS Prince of Wales, yg ketika ini tengah dibangun di galangan kapal Rosyth.
Tentang kapal induk HMS Illustrious:
Merupakan kapal perang kelima dan kapal induk kedua yg menggunakan nama Illustrious. Diterjunkan segera dalam Perang Falklands atau Malvinas tahun 1982. Membantu menjaga zona larangan terbang di Bosnia pada tahun 1990-an dan melakukan hal yg sama di Teluk Arab pada tahun 1998. Digunakan sebagai pembawa helikopter setelah pesawat Angkatan Laut Sea Harriers dijual pada tahun 2010. Terlibat dalam mendukung berbagai operasi di Afghanistan setelah serangan 11 September. Mengambil bagian dalam operasi di Sierra Leone dan misi bantuan di Filipina setelah Topan Haiyan pada 2013. Dinon-aktifkan dalam sebuah upacara di Portsmouth pada tahun 2014.Source : internasional.kompas.com