Dalam 24 Jam Menlu Adakan 14 Pertemuan Bilateral, Ini Hasilnya

Dalam 24 Jam Menlu Adakan 14 Pertemuan Bilateral, Ini Hasilnya

Nusa Dua -, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi melakukan rapat dengan 14 bilateral di sela-sela kegiatan Bali Democracy Forum IX yg diadakan di Nusa Dua.

Dalam kesempatan itu beliau bertemu dengan perwakilan dari 14 negara, yakni Suriname, Jepang, Melanesian Spearhead Group (MSG), Singapura, Nepal, Maladewa, Palestina, Qatar, Timor Leste, Papua Nugini, Libya, Pemenang Nobel Perdamaian dari Tunisia, Iran, dan Spanyol.

Menurut informasi Menlu Retno yg disampaikan kepada awak media, terdapat pernyataan umum dari 14 perwakilan tersebut.

"Mereka sangat mengapresiasi konsisten Indonesia dalam menyelenggarakan Bali Democracy Forum dengan tema yg berbeda-beda dari tahun ke tahun, dan tema tahun ini menurut aku sangat pas dengan situasi yg sedang dihadapi oleh dunia," ujar Retno.

"Mereka selalu mengharapkan agar Indonesia mampu memerankan peran sebagai pemimpin atau menggerakkan dan mempertahankan tugas yg selama ini dikerjakan Indonesia di dalam meningkatkan meningkatkan atau memperkuat demokrasi," imbuh dia.

Perempuan yg pernah menjadi Duta Besar Indonesia bagi Belanda itu memaparkan hasil 13 meeting bilateral yg dikerjakan pada Kamis (8/12/2016). Sebelumnya pada Rabu 7 Desember malam, Menlu Retno sudah mengadakan rapat dengan Menlu Suriname.

"Pertama dengan Jepang, kami berbicara mengenai adanya rencana kunjungan Perdana Menteri Abe pada Januari 2017," ujar Retno. Ia menambahkan juga terdapat fokus kerja sama antara Indonesia dengan Jepang di bidang investasi dan perdagangan.

Sementara itu dalam rapat bilateral kedua, Direktur Jenderal MSG, Amena Yauvoli,  mengharapkan kontribusi Indonesia dalam meningkatkan atau memperkokoh kerja sama di bidang ekonomi. Menlu Retno juga menyebut, terdapat peningkatan kerja sama pembangunan kapasitas dengan negara-negara di Pasifik Selatan dan negara anggota MSG.

Direktur Jenderal MSG, Amena Yauvoli, dengan Menlu Retno Marsudi (/Citra Dewi)

Untuk hasil rapat dengan Singapura, Menlu Retno berkata bahwa perwakilan negara tersebut kembali membahas soal kunjungan PM Singapura ke Semarang dan Kendal pada dua waktu lalu.

"Pembangunan Kendal Industrial Park yaitu ikon baru dari kerja sama Indonesia dengan Singapura, dan Singapura juga mengatakan pernyataannya yakni mengharapkan leadership Indonesia di bidang demokrasi," tutur perempuan kelahiran Semarang itu. Dalam kesempatan itu, di bahas juga soal kerja sama di bidang countering terrorism.

Sementara itu dalam rapat dengan Nepal yg diwakili oleh Menlu Prakash Sharan Mahat, membahas soal pembentukan mekanisme bilateral dalam bentuk joint comission, pasalnya Indonesia belum ada kedutaan di Nepal. Di samping itu dalam kerja sama ekonomi, Menlu Retno menyinggung keinginan bagi meningkatkan kerja sama di bidang perkereta apian dan industri strategis.

"Nepal dan Indonesia yaitu beberapa negara yg menjadi salah sesuatu kontributor terbesar dalam misi perdamaian dunia. Kita dapat bekerja sama dengan mereka di dalam penyediaan yg diperlukan buat pengerahan tenatar mereka yg diperlukan dalam misi perdamaian, dalam hal ini PT Pindad mampu menawarkan produknya," jelas Retno.

Pada rapat biateral selanjutnya, yakni dengan Maladewa, terdapat empat hal yg dibahas, yakni pembukaan konsul kehormatan Indonesia di Maladewa, perlindungan terhadap 1.400 tenaga kerja Indonesia yg berada di sana, meningkatkan kerja sama di bidang pariwisata, dan meminta dukungan Maladewa dalam keketuaan IORA.

Palestina yaitu negara berikutnya yg melakukan meeting bilateral dengan Indonesia. Dalam kesempatan itu, Menlu Palestina Riad Maliki dan Menlu Retno membahas rencana kegiatan konferensi internasional mengenai persoalan perdamaian Palestina yg rencananya mulai diselenggarakan di Paris pada Desember 2016.

Hal yang lain yg dibicarakan adalah bidang perdagangan, meskipun masih dalam skala kecil. "Produk kami paling banyak yg masuk ke wilayah Palestina adalah produk makanan, khususnya mie instan," tutur Retno.

Selain itu ada permintaan dari pihak Palestina agar pemerintah Indonesia bisa memberikan perlakuan khusus untuk produk-produk mereka yg masuk ke Indonesia. Perlakuan tersebut dinilai mulai sangat menolong menggerakkan ekonomi Palestina.

Pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Qatar, Sultan bin Saad al Muraikhi, membahas soal rencana kunjungan Emir Tamim bin Hamad bin Khalifa al-Tsani yg diupayakan berlangsung pada kuarter pertama tahun 2017.

Menlu Retno juga menyebut, terdapat upaya kerja sama di bidang telekomunikasi dan perbankan. Selain itu, ia juga mengundang investor dari Qatar bagi melebarkan bidang investasinya buat masuk ke infrastruktur.

"Kita akan dari sekarang pada ketika emir Qatar mulai berkunjung ke Indonesia maka mulai ada hasil konkret di bidang ekonomi," ujar Retno terkait dengan undangannya kepada para investor Qatar.

Dalam pembahasan dengan Menteri Luar Negeri Timor Leste, Hernani Coelho, kedua belah pihak memprioritaskan penyelesaian beberapa unresolved segments perbatasan darat. "Kunci dari seluruh negosiasi adalah fleksibiltas dan win-win solution. Kalau dalam negosiasi kami masih berpegang pada posisi masing-masing maka tak mulai ada kemajuan," ujar Retno.

Sementara itu rapat bilateral dengan Papua Nugini yg diwakili oleh Menlu Rimbink Pato, membahas soal penyelenggaran Joint Comission bagi tahun 2017 yg rencananya mulai dikerjakan pada Januari atau Februari. Selain itu dibahas juga rencana pengajaran Bahasa Indonesia di dua sekolah di Papua Nugini.

"Kita telah mulai mengirimkan tim bagi bertemu dengan pemerintah Papua Nugini yg mulai berangkat pada paruh pertama dalam bulan Desember ini yg mulai dikerjakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," tutur Retno.

Menteri Luar Negeri Papua Nugini Rimbink Pato dan Menlu Retno Marsudi (/Citra Dewi)

Sementara itu Libya yg diwakili oleh Menlu Mohamed Attaher Siyala, meminta investor Indonesia bagi berinvestasi di bidang energi. Dalam meeting bilateral itu, Menlu Retno juga menyinggung soal pentingnya pelrindungan perlindungan ratusan Warga Negara Indonesia yg ada di sana.

Selain itu Indonesia juga menawarkan penguatan demokrasi kepada Libya, yg ketika ini masih berada dalam masa transisi demokrasi. "Oleh karena itu kami telah akan melakukan kerja sama melalui Institute for Peace and Democracy dengan Al Mukhtar University di Libya di bidang demokrasi," ujar perempuan kelahiran 1962 itu.

Dalam perbincangan dengan pemenang Nobel Perdamaian 2015 yang berasal Tunisia, Ouided Bouchamoi, demokrasi yaitu hal yg dibahas. "Tunisia adalah negara pertama pada ketika demokrasi akan berkembang yg dikenal dengan Arab Spring, dan mereka ketika ini sedang selalu berupaya bagi memperkuat demokrasi di Tunisia,"

Ouided yg juga seorang business woman dan tertarik dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah-- di mana hampir 90 persen ekonomi di negara tersebut digerakkan oleh UMKM-- tertarik buat belajar dari Indonesia soal UMKM, termasuk akses terhadap keuangan dan pinjaman di bank.

Kerja sama ekonomi yaitu hal yg dibahas dalam meeting bilateral dengan Iran. Menurut Menlu Retno, terdapat kerja sama yg ingin dikerjakan dengan Iran dan berfokus pada sektor minyak dan gas.

"Banyak sekali kerja sama yg dapat kami optimalkan dengan Iran, terutama di migas. Iran yaitu salah sesuatu negara yg memiliki cadangan energi cukup tinggi, mereka memiliki cadangan minyak keempat terbesar, dan cadangan gas kedua terbesar di dunia," ujar Menlu Retno.

Pertemuan bilateral terakhir dikerjakan dengan Duta Besar Spanyol Fransisco, Jose Viquira Niel, yg dalam waktu dekat mulai mengakhiri tugasnya. Dalam kesempatan itu, Niel memperkenalkan Menlu yg baru dan rencana kunjungan Menlu Spanyol pada tahun depan.



Source : liputan6.com