Bertahan Hidup dengan Ajaran Samin

Bertahan Hidup dengan Ajaran Samin

SEMARANG, - Banyak orang percaya, warga Samin atau Sedulur Sikep adalah simbol dari salah sesuatu pewaris tradisi kebudayaan di Jawa.

Sebaliknya, ada juga memberi stigma bahwa warga Samin adalah warga terbelakang yg tak mau sekolah.

Warga Samin mempunyai prinsip (laku) tersendiri bagi menjalani hidup. Kadang kala, keberadaan mereka terasing di wilayahnya sendiri.

Lambat laun stigma itu berubah. Anak Samin akan bersedia sekolah. Mereka juga hidup bersosial dengan warga sekitar.

Budi Santoso, salah sesuatu warga Sikep dari Desa Larikrejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, misalnya. Meski berasal dari Sikep, ia akan mengarahkan ketiga anaknya buat ikut belajar di sekolah.

Semua anaknya lulus di sekolah menengah pertama di wilayahnya. Sekolah untuk mereka tak harus tinggi. Yang terpenting ialah anak-anak mereka mampu dapat membaca dan berhitung.

"Kami telah cukup dengan itu. Mau apa lagi," ujar Budi kepada Kompas.com, dua waktu lalu.

Orang Samin dikenal memiliki kepribadian jujur dan lugu. Ketika kedatangan tamu, mereka menyuguhkan makanan yg dipunyainya. Mereka tak menyembunyikan apa yg mereka punya.

Warga Samin juga mengajarkan kesantunan. Mereka harus mencintai alam dan seisinya. Mereka juga cinta dan setia pada amanat leluhur serta hormat dengan pemerintahan yg dianggap sebagai orangtua dan sesepuh rohani.

Dalam buku berjudul "Hanggo Puso Aji: Ajaran dan Sejarah Pergerakan Ki Samin Surosentiko" karya Budi Santoso (2016:5), orang Samin mendasarkan perilaku pada empat hal. Mereka tak mengganggu siapa pun, tak mengambil punya orang lain, mencari makan dari miliknya sendiri, dan menjaga perilaku dengan baik.

Ajaran Samin mengandung banyak nilai keluhuran. Maka sewajarnya keberadaa Samin dijaga dalam konteks pembangunan bangsa.

Orang Samin bisa melestarikan budaya lokal sehingga nilai kearifan itu dapat merawat kebinekaan.

Ajaran Samin identik dengan kejujuran dan paseduluran atau persaudaraan. Konsep paseduluran tak memandang ras, suku dan agama.

Mereka merasa sebagai sesama makhluk sosial yg diciptakan Yang Maha Kuasa, yg bersosial sesama manusia, dan alam seisinya.

Peneliti Samin dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus, Jawa Tengah, Mohammad Rosyid menyampaikan bahwa warga Samin akan menyesuaikan perilaku hidup dengan keadaan zaman.

Mereka tak saja memegang ajaran leluhur, tapi juga memperjuangkan hak dasar warga Samin sebagai warga negara.

Mereka ikut memperjuangkan agar agamanya, agama Adam, bagi diakui sebagai agama negara.

"Ciri khas gerakan Samin mestinya pasif, privat, otonom, dan tak berjejaring. Kredonya adalah wong Samin weruhe te'e dhewe atau tak ikut campur urusan pihak lain, tetapi sekarang telah akan bergeser," kata Rosyid dalam sarasehan budaya bertajuk "Bertahan Menjadi Samin" di Taman Budaya Raden Saleh, Semarang, Kamis (15/12/2016).

Menurut Rosyid, warga Samin kini ikut berjuang melawan kemiskinan. Mereka kerap gagal panen akibat banjir, wabah penyakit tanaman, kekeringan, dan sebagainya. Mereka yg miskin dahulu mencari penghasilan dengan hidup di kota.

Aktivis seni budaya Jawa Tengah, Daniel Hakiki, menyampaikan bahwa kebudayaan semestinya tak sebatas dilihat dari kebutuhan duniawi karena hal itu dapat mendegradasi nilai budaya. Pembauran budaya dan kebutuhan duniawi mulai mengurangi kearifan atau keluhuran ajaran Samin itu sendiri.

"Samin mestinya terus kental dengan nuansa welas asih dan kejujuran. Samin yaitu ajaran yg sangat tepat bagi menghindari pertikaian dan permasalahan, seperti sejarah pergerakan India, melawan tanpa kekerasan," ucap Danil.

Terlepas dari segala hal yg menyelimuti, ajaran Samin hingga kini masih selalu diamalnya oleh para penganutnya.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo pun mulai meminta keberadaan mereka buat dilestarikan karena mereka cuma ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Source : regional.kompas.com