PIDIE JAYA, - Tak gampang hidup di daerah rawan bencana. Pikiran itu segera tertanam di benak aku ketika pertama kali datang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Kamis (8/12/2016) malam.
Jarum jam hampir menunjukan pukul 00.00 WIB. Saya dan rombongan jurnalis yg berangkat bersama dari Jakarta akhirnya memasuki Pidie Jaya, titik kerusakan terparah gempa Aceh yg terjadi Rabu (7/12/2016) pagi.
Suasana mencekam menyambut kami. Di kanan dan kiri jalan terdapat posko-posko pengungsian yg dibangun warga secara swadaya. Posko-poskso itu cuma memakai lilin sebagai sumber penerangan.
Sebelum datang di tempat menginap, kalian menetapkan bagi menengok keadaan Rumah Sakit Umum Daerah yg dikabarkan rusak berat akibat gempa magnitudo 6,5. Ternyata aliran listrik di rumah sakit terputus sejak Rabu pagi. Selasar penuh sesak dipenuhi pasien rawat inap yg terbaring lemah.
Baca juga: Gempa Susulan Terjadi di Aceh, Warga Pidie Jaya Berlarian
Ekspresi ketakutan dan trauma masih terpancar dari wajah mereka. Lagi-lagi mereka cuma berbekal lilin bagi menerangi ruangan sekitar. Saat dua juru foto yg tergabung dalam rombongan kalian hendak memotret, mereka menolak.
"Jangan, Bang, buat apa," tanya mereka penuh curiga.
Rekan-rekan juru foto akhirnya mengurungkan niat bagi mengabadikan momen mencekam di malam itu.
Kami datang di rumah makan yg dijadikan posko pengungsian dadakan oleh pemiliknya. Itulah tempat menginap kami.
Sebelum tidur aku sempat berbincang dengan pemilik rumah makan, Salbaeni (32). Beni, sapaan akrabnya, menjelaskan ihwal tenda-tenda pengungsian di sepanjang jalan masuk ke Pidie Jaya yg didirikan oleh warga secara swadaya. Padahal ketika itu gempa sudah berlalu.
"Warga masih takut tidur di dalam rumah meskipun rumahnya tidak rubuh. Makanya mereka berbondong-bondong bangun tenda pengungsian buat tidur di luar. Itu lebih aman karena tidak mulai tertimpa bangunan," kata Beni.
"Kadang, mereka sampai trauma sehingga lama kembali ke rumah. Anak-anak biasanya ada yg takut buat kembali bersekolah karena khawatir kalau di ruangan tertimpa bangunan," lanjut Beni.
Teror gempa
Apa yg diceritakan Beni bukan isapan jempol. Gempa susulan segera meneror ketika jarum jam menunjukan pukul 01.00 WIB, Jumat (8/12/2016) dini hari.
Baca juga: Pidie Jaya Dilanda 10 Kali Gempa Susulan Usai Gempa Magnitudo 6,5
Meski cuma berlangsung dua detik, namun gempa itu membuat seluruh orang panik. Apalagi kita bermalam di lapangan futsal beratapkan baja ringan yg masih tergabung di dalam kompleks rumah makan Beni. Belum sempat melarikan diri ke luar, gempa susulan itu berhenti.
Teror kedua berlangsung esok siangnya di depan Pasar Meureudu yg kini sudah menjadi reruntuhan. Suasana makan siang yg santai seketika buyar menjadi kepanikan.
Warga yg berada di rumah makan refleks keluar memenuhi jalan. Gempa susulan ini merubuhkan beberapa ruko di sana. Selebihnya, gempa susulan kerap terjadi dan lambat laun kalian pun terbiasa. Hanya, memang harus tetap waspada, mengingat seketika gempa susulan dapat saja menjadi gempa inti berkekuatan besar yg dapat merubuhkan bangunan.
Teror itu juga mengintai para pengungsi di Pidie Jaya. Nilawati Rajab (42), pengungsi di Kecamatan Ulin, Pidie Jaya, hingga ketika ini mengaku tidak dapat tidur nyenyak setelah gempa, Rabu (7/12/2016) kemarin.
Ia mengungkapkan, sebelum gempa, tekanan darahnya cuma 100/90. Seusai gempa, karena terus ketakutan mulai gempa susulan dan tidak kunjung tidur nyenyak, tekanan darahnya naik menjadi 150/120.
Kemarin malam, Nila pun sempat panik ketika gempa susulan berlangsung. Awalnya ia dan anaknya tidur di tenda pengungsian di Ulin. Tenda berada di halaman masjid. Karena hujan, ia bersama pengungsi lainnya pindah ke dalam masjid.
Saat gempa susulan berlangsung kemarin malam sekitar pukul 21.30 WIB, ia dan pengungsi lainnya berhamburan berlari ke halaman.
"Sampai sekarang aku belum dapat tidur nyenyak karena terus berjaga-jaga kalau nanti ternyata ada gempa susulan yg panjang," tutur Nila dengan raut muka yg lelah.
Kini, Nila tengah merawat anak sulungnya yg trauma akibat gempa.
Nana Marleni (20), sang anak, kini juga harus menjalani rawat inap di luar ruangan agar mampu menyelamatkan diri ketika terjadi gempa.
"Anak aku masih pusing, Bang. Masih takut katanya," ujar Nila mewakili putri sulungnya.
Tak cuma orang dewasa, anak-anak juga turut merasakan teror gempa susulan. Muhammad Khalis, siswa kelas 6 SD yg ditemui di posko pengungsian di Kecamatan Meureudu mengaku masih takut buat kembali ke rumah dan bersekolah.
"Sekolah nanti saja. Nanti juga ada pengumuman dari guru, Bang," ucap Khalis.
Kompas TV Jurnalis dan Warga Kirim Bantuan Untuk Korban GempaSource : regional.kompas.com